Rabu, 13 November 2013
KABUR
“Kabur? Apa tu maksudnya? Lari, atau apa?”
“Meneketehe...terserah kamu aja mau diartikan apa... Judul tulisan ini memang bermakna ambigu kok”
idiiih...jawaban yang seenak udel ya? Dongkol-dongkol gimanaaaaa gitu dengarnya.
Trus kalo ditanya lagi “lah kalo gitu kenapa kamu tulis kalimat membingungkan begitu, klo akhirnya pemaknaannya dikembalikan lagi ke pembaca, suka-suka hati pembaca lagi?”
Trus dijawablah lagi seenak udel dikali dua “lah, sapa suruh kamu baca dan maknai. Aku hanya menulis qo, ga suruh kamu baca apalagi memaknai"
idiiiiiihhhhh...asem!
Pingin rasanya yang nanya segera ambil jurus njitak, saking gemes bercampur dongkol. Apalagi bila yang ditanya pasang muka datar tanpa ekpresi (bukan muka datar tanpa hidung dan perkakas wajah lainnya ya, xixixixi).
Gubrakkkk..
Yakin deh, kalo dua-duanya tetep melontarkan tanya jawab dengan ngeyel, bakalan jadi debat kusir tuh. Masing-masing akan melakukan pembelaan dan pembenaran yang tak ada habisnya. Dan pembaca, yang dengan seriusnya menyimak kata demi kata, tanpa sadar terseret arus jadi korban. Korban membaca argumen yang ga jelas juntrungannya.
Menurut referensiku, ambigu itu adalah kata atau kalimat yang memiliki arti lebih dari satu atau banyak. Sementara kata “kabur” yang tertera pada judul tulisan ini, mengandung makna ambigu “lari” dan “tidak jelas atau samar-samar".
Dalam penerapannya, makna ambigu memang seringkali menyamarkan sosok yang menjadi target atau objek pembicaraan. Sebagai contoh, aku menulis satu kalimat "anak ayam yang patah kakinya itu diambil oleh nenek". Pengertian siapa yang patah kakinya disini memiliki makna ambigu, bisa si anak ayam dan bisa juga si induk ayam. Tergantung bagaimana pembaca mengartikan. Jika pembaca mengartikan “anak ayam yang patah kakinya” sebagai anak ayam, maka yang patah kaki dalam interpretasi pembaca adalah si anak ayam. Namun jika pembaca mengartikan “anak-ayam yang patah kakinya” menunjuk pada induk ayam, maka yang patah kaki dalam penafsiran tersebut adalah induknya ayam, bukan anaknya. Nah lo.... bingung kan....xixixixi
Membaca tulisan bermakna ambigu memang gampang-gampang susah. Membacanya gampang,namun menafsirkanya itu yang susah. Sebab makna ambigu yang samar menggiring kita untuk berspekulasi. Spekulasi yang berpotensi melahirkan interpretasi (penafsiran) yang kebablasan. Apalagi bila yang disamarkan tersebut berupa identitas. Sekalipun teridentifikasi dengan baik, tetap tidak menjamin penafsiran itu benar adanya. Bahkan sudah tepat sekali pun tetap saja masih bisa dikalikan dengan nol. Karena siapa sebenarnya pemilik identitas yang dimaksud, hanya penulis sendirilah yang tau. Betul ga? (ayo jawab betul, kalo jawab ga, gue tabok. Xixixixi)
Identitas yang samar-samar, yang disamarkan, yang kabur dan yang dikabur-kaburkan, menjanjikan perlindungan ganda bagi siapapun yang menggunakannya, baik lisan maupun tulisan. Perlindungan ganda yang dijanjikan itu benar-benar yahud, berupa perlindungan saat menyerang dan perlindungan saat diserang (perang kali yeee..). Si pengguna identitas Kabur ini akan dilindungi oleh si Kabur dengan membalutnya dari sisi kiri, sisi kanan, atas, bawah, tengah, belakang, semuanya, membentuk pertahanan diri bak baju zirah paling kuat. Si Kabur ini benar sudah menjadi bodyguard paling perkasa yang mampu melindunginya dari segala macam tuduhan, serangan balik atau apapunlah namanya.
Jadi, sekeras apapun pembaca mencoba menguraikan arti si Kabur, tak akan berguna. Sebab... Si Kabur selalu meninggalkan celah bagi penggunanya untuk lepas dari tuduhan. Itu pengalamanku.
Dan pengalamanku juga, bila keseringan membaca tulisan beridentitas kabur, dapat membuat tulisan tersebut terasa biasa saja, tak lagi mampu menghadirkan perasaan tersentil, tak lagi respek, tak lagi peduli. Yang akhirnya menjelma menjadi provokator untuk mulai mengabaikan. Toh tidak jelas juga kan siapa yang disinggung.
Mungkin disini, si Kabur berubah jadi senjata makan tuan.
Langganan:
Postingan (Atom)