Jumat, 15 November 2013
Pesona Celana Keramat
Setiap orang pasti pernah mengidolakan orang lain dalam hidupnya. Entah itu sosok ibu, ayah, saudara, artis, aktor, tokoh agama, tokoh politik, tokoh dari dunia fantasi, dunia animasi, maupun tokoh-tokoh lainnya. Orang yang diidolakan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap penggemarnya. Memiliki seorang idola, biasanya memberikan efek positif bagi perkembangan jiwa penggemar, sebab, seorang idola biasanya menjadi inspirasi dan menjadi motivasi paling ampuh baginya.
Bicara tentang idola, tidak akan pernah ada habisnya. Semua hal tentang sang idola, seperti karyanya, pemikirannya, suaranya, kemampuannya, sikapnya, hubungan personal dan hubungan sosialnya, kebiasaannya, style-nya, semua bak magnet paling kuat bagi setiap penggemarnya.
Seringkali, anda mungkin jenuh mendengar seorang berceloteh sedemikian semangatnya tentang idolanya. Anda mungkin menganggap itu hal yang bodoh, lucu, menggelikan juga membosankan. Mungkin karena bagi anda, apa yang dibicarakan itu hal yang biasa saja, tak penting dan biasanya selalu luput dari perhatian. Namun bagi seorang penggemar, semua itu adalah hal yang paling berharga. Apalagi bila hal tersebut diketahui olehnya pertama kali dan langsung dari sang idola, wuuuuuuu.... bangganya selangit..!!
Aku pernah merasakannya, bahkan hingga detik ini aku masih terus menikmatinya. Aku punya idola, aku selalu terinspirasi olehnya, aku selalu termotivasi olehnya, dan aku.... aku selalu membicarakan semua hal tentangnya. Aku membicarakan karyanya, aku membicarakan pemikirannya, aku membicarakan sikapnya dan aku membicarakan style-nya.
Saat ini mungkin semua sudah tau bahwa aku mengidolakan Shikhei Goh, seorang photografer yang karyanya sudah melanglang buana ketingkat dunia. Awalnya tak terpikir bisa menjadi seorang penggemar seperti ini, sampai suatu ketika di tahun 2011, aku menemukan foto capung hasil karyanya yang mampu menyihir dengan pesonanya hingga membuatku langsung jatuh cinta. Jatuh cinta begitu saja pada pandangan pertama, tanpa tau siapa pemiliknya selain sebuah nama yang tercantum disana, Shikhei Goh.
Rasa penasaran membawaku melakukan hal-hal yang tak biasa aku lakukan. Mencari akun Shikhei Goh diberbagai media sosial. Setelah menemukannya, aku mulai ngeyel dan terus mengamati siapa sebenarnya orang yang telah membuatku mengidolakannya tanpa permisi ini. Aku telusuri semua hal dengan teliti, kelebihannya, kekurangannya, hubungan sosialnya dengan orang lain, termasuk interaksinya dengan penggemar seperti diriku. Tak luput juga dengan kebiasaan dan style-nya. Itu karena aku berpikir bahwa orang bernama Shikhei Goh ini sungguh tidak sopan, masa diriku yang narsis ini sampai berpaling padanya hanya karena sebuah foto?? Gubrakkk.
Dari hasil penelusuran dan pengamatanku tersebut, yang dapat aku simpulkan, adalah : walaupun body nya ndut dan pipinya kayak bapao, beliau punya kharisma tersendiri. Beliau punya karakter. Punya kemampuan belajar yang mengagumkan. Ramah. Humoris. Punya mental juara, dan yang pasti, beliau punya pesona celana keramat yang memikat. Xixixixixi
Oh ya, sebelum kesimpulan diatas aku buat, aku berinteraksi dulu dengan beliau agar aku tak salah penafsiran. Akun ku selalu muncul pada setiap status dan karyanya. Menariknya, waktu aku inbox beliau untuk pertama kalinya, pertanyaanku dijawab dengan ramah. Jawaban khas para idola. Penuh basa-basi. Beugh..... Apalagi fotonya waktu itu jadi juara. Bisa jadi ramahnya itu karena lagi senang, ya ga?
Jawab iya, kalo jawab engga, gue tabok. Xixixixixi
Besoknya aku inbox lagi, beliau masih ramah. Aku tertawa. Besoknya aku lakukan lagi, begitupun besoknya, besoknya dan besoknya. Aku pikir, jika orang ini tetap bersikap ramah menghadapi sikapku yang ngeyel ini, maka dia pantas untuk aku idolakan. Nyatanya beliau lulus. Karena tetap bersikap ramah, sampai detik ini, tidak pernah berubah.
Horeeee!!! Ga salah pilih idola. hehe
Beberapakali, aku sempat berpikir untuk berhenti mengganggunya, dan mengidolakannya saja dengan benar seperti penggemar yang lain. Namun karena sikap ngeyelku terlanjur membekas, aku masiiiiih saja hobi ngeyel dan selalu mengoloknya. Mengatainya gendut, besar, lebar, dan sederet pelesetan lainnya yang dapat membuat telinga panas. Tapi anehnya, dia tidak pernah tersinggung, mungkin karena telinganya sudah kebal dengar ocehan begituan, atau mungkin juga telinganya terbuat dari bahan tahan panas atau semacamnya (abis nulis ini langsung kualat), Xixixixi...
Bicara tentang style sang idola, terutama busana. Aku sering ketawa ngikik. Biasanya orang yang diidolakan banyak orang, akan selalu berusaha menjaga penampilan. Berpakaian rapi, wangi, dan yaaa tebar pesona. Tapi itu tidak kutemui padanya. Lihat saja semua koleksi fotonya, hampir semuanya pake kaos oblong warna item, celana pendek dan sendal jepit. Sementara rekan-rekannya berpakain rapi, celana panjang, sepatu dan pastinya wangi, bisa dilihat qo. Xixixixi
Bicara tentang baju, aku pernah menduga, dan ku pikir bukan hanya aku, orang lain juga menduga yang sama, bahwa didalam lemari pakaiannya hanya ada kaos oblong warna hitam!! Wakakakakakakaakakkkk... (sungguh terlalu diriku ini menuduh sembarangan. Xixiixxi)
Lalu, bicara soal celana, celananya juga cuma itu-itu doang.... celana pendek selutut. Kayak ga pernah ganti celana. Sampe-sampe banyak yang bilang itu celana andalan, itu celana kebangsaan dan macam-macam lagi. Mendengar itu, aku pun gatal mau kasi nama juga buat celana pendeknya tersebut. “celana keramat”, begitu nama baru yang kuberi pada celananya. Tak disangka, banyak yang akhirnya ikut menyebut celana tersebut sebagai “celana keramat”. Xixixixxi
Bicara soal celana keramat ini, aku pernah mengintimidasi beliau melalui BM. Aku paksa beliau bercerita tentang celana tersebut. Aku bilang “awas kalo ga cerita, aku sebarin foto jelekmu dimuka umum” wakakkaakakakakkkk....
Lalu dapatlah aku ceritanya. Tapi bukan karena ancaman tersebut manjur (soalnya ancaman itu ga mempan bagi beliau), itu terjadi karena beliau memang sedang berbaik hati untuk cerita. Jadi, diketahuilah olehku yang baik hati dan rajin menabung ini, bahwa celana keramat tersebut berjumlah enam helai. Jumlah sebanyak itu terjadi karena kebiasaan beliau yang suka belanja barang yang hampir sama. Xixixix
Pantesan semua pakainnya kayak ga pernah ganti. Xixixixixi... padahal ya... aku sudah mikir tuh.. Andai betul beliau memang jarang ganti, boleh tu dimasukin ke laboratorium buat diteliti, karena mungkin saat ini beliau sudah jadi sarang paling nyaman bagi bangsa kudas-kudis, kurap dan kutu aer....wakakakakaakakak... takut nyebar dan menginfeksi banyak orang. Kan bahaya....xixixixi
Idiihhh,,, kebablasan deh ngomongnya. Xixixixi
Lalu, bicara tentang pesona celana keramat. Menurut pengamatanku, celana keramat ini ampuh membuat beliau bergerak dengan leluasa. Ampuh juga membuat beliau terkenal karena ciri khasnya yang suka tampil santai ini. Sehingga bila dilihat dan dibandingkan dengan seksama, senyum beliau saat mengenakan celana keramat, jauh lebih lepas daripada saat beliau menggunakan celana panjang lainnya yang terkesan formal. Terang saja senyum lepas begitu bikin penggemar yang liat klepek-klepek tanpa daya, jejeritan sambil remas-remas pagar besi sampe ga jelas ujudnya. Xixixixi
Efek lain dari pesona celana keramat, beliau tak hanya disukai oleh para penggemar cewe, penggemar cowo pun suka. Bahkan beberapa cowo yang punya disorientasi seksual dengan suka rela menawarkan diri padanya. Xixixixixixixixiii...hahahaha...
Adoh.. sakit perot. Jom, mari dah kita sudahi. Sebelum ditimpuk pake tripod. Xixixixi
Betewe, bagi yang baca tapi ga ngerti, aku cuma bisa bilang "kamu memang tidak akan pernah mengerti apa yang dirasakan oleh aku dan para penggemar Shikhei lainnya, jika kamu tidak punya idola. Kalau kamu ingin mengerti, pilihlah seorang yang pantas untuk itu. Pilih dia dengan hati, bukan dengan memaksakan diri".
Rabu, 13 November 2013
KABUR
“Kabur? Apa tu maksudnya? Lari, atau apa?”
“Meneketehe...terserah kamu aja mau diartikan apa... Judul tulisan ini memang bermakna ambigu kok”
idiiih...jawaban yang seenak udel ya? Dongkol-dongkol gimanaaaaa gitu dengarnya.
Trus kalo ditanya lagi “lah kalo gitu kenapa kamu tulis kalimat membingungkan begitu, klo akhirnya pemaknaannya dikembalikan lagi ke pembaca, suka-suka hati pembaca lagi?”
Trus dijawablah lagi seenak udel dikali dua “lah, sapa suruh kamu baca dan maknai. Aku hanya menulis qo, ga suruh kamu baca apalagi memaknai"
idiiiiiihhhhh...asem!
Pingin rasanya yang nanya segera ambil jurus njitak, saking gemes bercampur dongkol. Apalagi bila yang ditanya pasang muka datar tanpa ekpresi (bukan muka datar tanpa hidung dan perkakas wajah lainnya ya, xixixixi).
Gubrakkkk..
Yakin deh, kalo dua-duanya tetep melontarkan tanya jawab dengan ngeyel, bakalan jadi debat kusir tuh. Masing-masing akan melakukan pembelaan dan pembenaran yang tak ada habisnya. Dan pembaca, yang dengan seriusnya menyimak kata demi kata, tanpa sadar terseret arus jadi korban. Korban membaca argumen yang ga jelas juntrungannya.
Menurut referensiku, ambigu itu adalah kata atau kalimat yang memiliki arti lebih dari satu atau banyak. Sementara kata “kabur” yang tertera pada judul tulisan ini, mengandung makna ambigu “lari” dan “tidak jelas atau samar-samar".
Dalam penerapannya, makna ambigu memang seringkali menyamarkan sosok yang menjadi target atau objek pembicaraan. Sebagai contoh, aku menulis satu kalimat "anak ayam yang patah kakinya itu diambil oleh nenek". Pengertian siapa yang patah kakinya disini memiliki makna ambigu, bisa si anak ayam dan bisa juga si induk ayam. Tergantung bagaimana pembaca mengartikan. Jika pembaca mengartikan “anak ayam yang patah kakinya” sebagai anak ayam, maka yang patah kaki dalam interpretasi pembaca adalah si anak ayam. Namun jika pembaca mengartikan “anak-ayam yang patah kakinya” menunjuk pada induk ayam, maka yang patah kaki dalam penafsiran tersebut adalah induknya ayam, bukan anaknya. Nah lo.... bingung kan....xixixixi
Membaca tulisan bermakna ambigu memang gampang-gampang susah. Membacanya gampang,namun menafsirkanya itu yang susah. Sebab makna ambigu yang samar menggiring kita untuk berspekulasi. Spekulasi yang berpotensi melahirkan interpretasi (penafsiran) yang kebablasan. Apalagi bila yang disamarkan tersebut berupa identitas. Sekalipun teridentifikasi dengan baik, tetap tidak menjamin penafsiran itu benar adanya. Bahkan sudah tepat sekali pun tetap saja masih bisa dikalikan dengan nol. Karena siapa sebenarnya pemilik identitas yang dimaksud, hanya penulis sendirilah yang tau. Betul ga? (ayo jawab betul, kalo jawab ga, gue tabok. Xixixixi)
Identitas yang samar-samar, yang disamarkan, yang kabur dan yang dikabur-kaburkan, menjanjikan perlindungan ganda bagi siapapun yang menggunakannya, baik lisan maupun tulisan. Perlindungan ganda yang dijanjikan itu benar-benar yahud, berupa perlindungan saat menyerang dan perlindungan saat diserang (perang kali yeee..). Si pengguna identitas Kabur ini akan dilindungi oleh si Kabur dengan membalutnya dari sisi kiri, sisi kanan, atas, bawah, tengah, belakang, semuanya, membentuk pertahanan diri bak baju zirah paling kuat. Si Kabur ini benar sudah menjadi bodyguard paling perkasa yang mampu melindunginya dari segala macam tuduhan, serangan balik atau apapunlah namanya.
Jadi, sekeras apapun pembaca mencoba menguraikan arti si Kabur, tak akan berguna. Sebab... Si Kabur selalu meninggalkan celah bagi penggunanya untuk lepas dari tuduhan. Itu pengalamanku.
Dan pengalamanku juga, bila keseringan membaca tulisan beridentitas kabur, dapat membuat tulisan tersebut terasa biasa saja, tak lagi mampu menghadirkan perasaan tersentil, tak lagi respek, tak lagi peduli. Yang akhirnya menjelma menjadi provokator untuk mulai mengabaikan. Toh tidak jelas juga kan siapa yang disinggung.
Mungkin disini, si Kabur berubah jadi senjata makan tuan.
Senin, 11 November 2013
Kesewenangan Penulis
Tulisan ini berangkat dari analisa pribadi yang dangkal, tentang seorang fotografer yang menurutku terlalu sewenang-wenang dalam menjustifikasi orang lain melalui tulisannya dalam sebuah blog, Kata Foto.
Perlu diketahui, aku menulis ini tidak berangkat dari rasa benci ataupun iri pada penulis. Karena terus terang, aku belum pernah bertegur sapa apalagi bertatap muka dengannya. Namun, membaca semua tulisannya membuatku menyimpulkan satu hal. Dia menyukai kata-kata kasar dan senang melontarkan cemoohan. itu menurutku.
Dan menurutku lagi, tulisannya dibumbui terlalu banyak hujatan terhadap orang lain yang dia nilai melakukan kesalahan, melakukan hal yang tak seharusnya. Alhasil pesan pelestarian lingkungan yang ingin disampaikannya kalah pamor dengan hasil kritisinya terhadap sederet tokoh tanpa nama (namun lucunya, teridentifikasi dengan jelas) yang dihujatnya tersebut.
Sebagai contoh, dalam sebuah artikel terbaru dia menulis “padahal jelas-jelas kumpulan itu terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang tua, gila muda, juara pamer, mahir menipu, hobi mencuri, mantan calon juara..” membaca ini aku tertegun. Bagiku, kata-kata ini kasar dan sangat berpotensi menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Dengan penasaran, aku buka beranda blognya, diawal blognya tertulis kalimat “kecerdasan intelektual, emosional dan spritual yang dipadu dengan pemahaman teknis fotografi memungkinkan terciptanya sebuah foto yang mampu menggantikan banyak kata”, sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya.
Pemahamanku, orang yang mampu menulis kalimat sehebat itu pastilah orang yang mempunyai perpaduan semua unsur tersebut. Sehingga, sangat tidak mungkin rasanya dia tega menulis dengan memakai bahasa yang kasar begitu. Karena biasanya orang yang cerdas secara intelektual, tidak menggunakan kata-kata kasar, mereka lebih memilih menggunakan kata-kata yang halus. Begitupun orang yang memiliki kecerdasan emosional, mereka menghindari kata-kata berkonotasi kasar yang berpotensi melukai perasaan orang lain. Demikian pula dengan orang yang memiliki kecerdasan spiritual, mereka pastinya akan menggunakan kalimat yang santun yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Apalagi jika orang tersebut memiliki ketiganya, seperti tulisan diawal blog tersebut.
Tapi ya sudahlah... mungkin saja tulisan di beranda blog itu hanya sekedar tulisan saja, bukan menggambarkan jati diri si penulis. Sambil berpikir begitu, aku lanjutkan membaca artikelnya “namun sayang disayang, yang jadi pimpinan gila kewenangan, haus popularitas, serta sibuk dengan prestasi diri sendiri”
Duhaiii... hatiku yang lembut ini tidak kuat membaca kata bernada kasar seperti ini bertubi-tubi. Kalimat ini jelas selain kasar juga penuh dengan cemooh dan amarah. Terasa juga didalamnya terkandung kekecewaan mendalam penulis sehingga mencetuskan kalimat justifikasi yang sedemikian rendahnya terhadap si pimpinan.
Dari sini aku mulai tertegun lagi. Menyimpulkan lagi. Melengkapi simpulan pertamaku yang menyatakan penulis ini menyukai kata kasar, maka sekarang bertambah menjadi “ternyata tak hanya menggunakan kata kasar, namun juga tidak menyimpan rasa hormat terhadap orang lain”.
Bahhh... mengecewakan memang. Penulis sehebat dia, yang bercerita dengan gayanya yang unik ternyata takk mampu bertutur kata dengan sopan. Tutur katanya serampangan, seenak udel. Aku yang baca sampe “sesek” akibat beratnya nada cemooh dalam tulisannya tersebut.
Hobi mencuri... ini tak hanya cemooh sebenarnya, ini hinaan. Adakah orang yang hobbinya mencuri selain seorang kleptomania? Dan apakah gelar hina yang dia sematkan ini setelah melalui serangkaian riset?? Atau hanya mulut dan tangan serta pikirannya saja yang lancang menuliskan dan menganugerahkan gelar hina ini kepada seseorang???
Gila kewenangan!! Busyettt... apalagi itu? Dan bagaimana pula bentuknya?? Apakah kewenangan wakil ketua, sekretaris, maupun seksi-seksi dia semua yang ambil? Atau dia maunya semua kegiatan dia yang handle? Atau gimana sih?
Disini aku mulai merasa jengah. Ternyata ada manusia yang menganggap rendah manusia lainnya sampai memberikan gelar sehina itu. Uhukk... Disini aku jadi kehabisan kata dan hanya bisa meratapi, betapa ternyata seorang penulis itu bisa begitu sewenang-wenangnya dalam menjustifikasi, menghujat, mencemooh bahkan memberi gelar pada orang lain yang tidak disukainya dengan dalih kebebasan berpendapat, kebebasan menulis, kebebasan ini, kebebasan itu, tanpa melakukan serangkaian riset, tanpa melakukan sebuah pendekatan atau penelitian dengan metode apapun namanya. Seorang penulis, bisa langsung dengan lancangnya menghakimi orang lain secepat jarinya menekan tombol keyboard untuk mengetik kata “kamu haus popularitas!! Kamu gila kewenangan!! Kamu penipu!! Kamu juara pamer!! Kamu hobi mencuri!!”.
Gubrakkkkkkk..... sakit sekali hatiku membacanya.
Kebebasan penulis ternyata sudah kebablasan. Kewenangan menyampaikan informasi untuk memberikan edukasi malah dengan lancang diselewengkan untuk menghujat dan mencemooh. Padahal alangkah baiknya bila menulis sesuatu yang berimbang, antara masalah dan solusi diberi porsi sama besar dalam pembahasan. Sehingga pembaca tak hanya tau permasalahan saja, namun juga tau solusinya. Apalagi dari sekian banyak artikelnya, tak aku temui artikel yang membahas tuntas bagaimana menjaga kelestarian lingkungan dengan baik, bagaimana jika ingin berkarya dengan menggunakan hewan langka dengan tanpa membunuh dan merusak habitatnya... Tidak ada. Semua tentang pelestarian hanya dibahas sambil lalu. Sehingga terkesan bukan itulah fokus utama yang disampaikan.
Titik fokusnya justru jatuh pada kritisi terhadap sederet tokoh tanpa nama. Sehingga, seperti yang aku bilang tadi, karena porsi masalah dibahas lebih besar, maka masalah itulah yang akhirnya dilihat dan ditanggapi orang. Dan jika itu terjadi, berarti gagallah si penulis dalam menyampaikan pesan pelestarian lingkungan yang dikoar-koarkan tersebut.
Hahhhh... Sudah ah.. Cape. Jadi demikian saja analisa dangkal ini semoga kata-kata kasar dan kesewenangan gelar yang ditulisnya tak akan ditiru oleh pembaca. Terlebih oleh diriku. Karena, sekalipun aku dididik di sebuah sekolah kedinasan yang penuh dengan kekerasan dan kata-kata kasar, aku sadar, kata
-kata kasar dan kesewenangan tidak akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Mari, mulai sekarang kita STOP berkata kasar secara lisan maupun tulisan.
Salam damai,
Sutri Sasmita.
Sumber :
http://www.katafoto.com/artikel/135-indah.html
Perlu diketahui, aku menulis ini tidak berangkat dari rasa benci ataupun iri pada penulis. Karena terus terang, aku belum pernah bertegur sapa apalagi bertatap muka dengannya. Namun, membaca semua tulisannya membuatku menyimpulkan satu hal. Dia menyukai kata-kata kasar dan senang melontarkan cemoohan. itu menurutku.
Dan menurutku lagi, tulisannya dibumbui terlalu banyak hujatan terhadap orang lain yang dia nilai melakukan kesalahan, melakukan hal yang tak seharusnya. Alhasil pesan pelestarian lingkungan yang ingin disampaikannya kalah pamor dengan hasil kritisinya terhadap sederet tokoh tanpa nama (namun lucunya, teridentifikasi dengan jelas) yang dihujatnya tersebut.
Sebagai contoh, dalam sebuah artikel terbaru dia menulis “padahal jelas-jelas kumpulan itu terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang tua, gila muda, juara pamer, mahir menipu, hobi mencuri, mantan calon juara..” membaca ini aku tertegun. Bagiku, kata-kata ini kasar dan sangat berpotensi menyinggung dan melukai perasaan orang lain.
Dengan penasaran, aku buka beranda blognya, diawal blognya tertulis kalimat “kecerdasan intelektual, emosional dan spritual yang dipadu dengan pemahaman teknis fotografi memungkinkan terciptanya sebuah foto yang mampu menggantikan banyak kata”, sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya.
Pemahamanku, orang yang mampu menulis kalimat sehebat itu pastilah orang yang mempunyai perpaduan semua unsur tersebut. Sehingga, sangat tidak mungkin rasanya dia tega menulis dengan memakai bahasa yang kasar begitu. Karena biasanya orang yang cerdas secara intelektual, tidak menggunakan kata-kata kasar, mereka lebih memilih menggunakan kata-kata yang halus. Begitupun orang yang memiliki kecerdasan emosional, mereka menghindari kata-kata berkonotasi kasar yang berpotensi melukai perasaan orang lain. Demikian pula dengan orang yang memiliki kecerdasan spiritual, mereka pastinya akan menggunakan kalimat yang santun yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Apalagi jika orang tersebut memiliki ketiganya, seperti tulisan diawal blog tersebut.
Tapi ya sudahlah... mungkin saja tulisan di beranda blog itu hanya sekedar tulisan saja, bukan menggambarkan jati diri si penulis. Sambil berpikir begitu, aku lanjutkan membaca artikelnya “namun sayang disayang, yang jadi pimpinan gila kewenangan, haus popularitas, serta sibuk dengan prestasi diri sendiri”
Duhaiii... hatiku yang lembut ini tidak kuat membaca kata bernada kasar seperti ini bertubi-tubi. Kalimat ini jelas selain kasar juga penuh dengan cemooh dan amarah. Terasa juga didalamnya terkandung kekecewaan mendalam penulis sehingga mencetuskan kalimat justifikasi yang sedemikian rendahnya terhadap si pimpinan.
Dari sini aku mulai tertegun lagi. Menyimpulkan lagi. Melengkapi simpulan pertamaku yang menyatakan penulis ini menyukai kata kasar, maka sekarang bertambah menjadi “ternyata tak hanya menggunakan kata kasar, namun juga tidak menyimpan rasa hormat terhadap orang lain”.
Bahhh... mengecewakan memang. Penulis sehebat dia, yang bercerita dengan gayanya yang unik ternyata takk mampu bertutur kata dengan sopan. Tutur katanya serampangan, seenak udel. Aku yang baca sampe “sesek” akibat beratnya nada cemooh dalam tulisannya tersebut.
Hobi mencuri... ini tak hanya cemooh sebenarnya, ini hinaan. Adakah orang yang hobbinya mencuri selain seorang kleptomania? Dan apakah gelar hina yang dia sematkan ini setelah melalui serangkaian riset?? Atau hanya mulut dan tangan serta pikirannya saja yang lancang menuliskan dan menganugerahkan gelar hina ini kepada seseorang???
Gila kewenangan!! Busyettt... apalagi itu? Dan bagaimana pula bentuknya?? Apakah kewenangan wakil ketua, sekretaris, maupun seksi-seksi dia semua yang ambil? Atau dia maunya semua kegiatan dia yang handle? Atau gimana sih?
Disini aku mulai merasa jengah. Ternyata ada manusia yang menganggap rendah manusia lainnya sampai memberikan gelar sehina itu. Uhukk... Disini aku jadi kehabisan kata dan hanya bisa meratapi, betapa ternyata seorang penulis itu bisa begitu sewenang-wenangnya dalam menjustifikasi, menghujat, mencemooh bahkan memberi gelar pada orang lain yang tidak disukainya dengan dalih kebebasan berpendapat, kebebasan menulis, kebebasan ini, kebebasan itu, tanpa melakukan serangkaian riset, tanpa melakukan sebuah pendekatan atau penelitian dengan metode apapun namanya. Seorang penulis, bisa langsung dengan lancangnya menghakimi orang lain secepat jarinya menekan tombol keyboard untuk mengetik kata “kamu haus popularitas!! Kamu gila kewenangan!! Kamu penipu!! Kamu juara pamer!! Kamu hobi mencuri!!”.
Gubrakkkkkkk..... sakit sekali hatiku membacanya.
Kebebasan penulis ternyata sudah kebablasan. Kewenangan menyampaikan informasi untuk memberikan edukasi malah dengan lancang diselewengkan untuk menghujat dan mencemooh. Padahal alangkah baiknya bila menulis sesuatu yang berimbang, antara masalah dan solusi diberi porsi sama besar dalam pembahasan. Sehingga pembaca tak hanya tau permasalahan saja, namun juga tau solusinya. Apalagi dari sekian banyak artikelnya, tak aku temui artikel yang membahas tuntas bagaimana menjaga kelestarian lingkungan dengan baik, bagaimana jika ingin berkarya dengan menggunakan hewan langka dengan tanpa membunuh dan merusak habitatnya... Tidak ada. Semua tentang pelestarian hanya dibahas sambil lalu. Sehingga terkesan bukan itulah fokus utama yang disampaikan.
Titik fokusnya justru jatuh pada kritisi terhadap sederet tokoh tanpa nama. Sehingga, seperti yang aku bilang tadi, karena porsi masalah dibahas lebih besar, maka masalah itulah yang akhirnya dilihat dan ditanggapi orang. Dan jika itu terjadi, berarti gagallah si penulis dalam menyampaikan pesan pelestarian lingkungan yang dikoar-koarkan tersebut.
Hahhhh... Sudah ah.. Cape. Jadi demikian saja analisa dangkal ini semoga kata-kata kasar dan kesewenangan gelar yang ditulisnya tak akan ditiru oleh pembaca. Terlebih oleh diriku. Karena, sekalipun aku dididik di sebuah sekolah kedinasan yang penuh dengan kekerasan dan kata-kata kasar, aku sadar, kata
-kata kasar dan kesewenangan tidak akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Mari, mulai sekarang kita STOP berkata kasar secara lisan maupun tulisan.
Salam damai,
Sutri Sasmita.
Sumber :
http://www.katafoto.com/artikel/135-indah.html
Langganan:
Postingan (Atom)