Senin, 11 November 2013

Kesewenangan Penulis

Tulisan ini berangkat dari analisa pribadi yang dangkal, tentang seorang fotografer yang menurutku terlalu sewenang-wenang dalam menjustifikasi orang lain melalui tulisannya dalam sebuah blog, Kata Foto.

Perlu diketahui, aku menulis ini tidak berangkat dari rasa benci ataupun iri pada penulis. Karena terus terang, aku belum pernah bertegur sapa apalagi bertatap muka dengannya. Namun, membaca semua tulisannya membuatku menyimpulkan satu hal. Dia menyukai kata-kata kasar dan senang melontarkan cemoohan. itu menurutku.

Dan menurutku lagi, tulisannya dibumbui terlalu banyak hujatan terhadap orang lain yang dia nilai melakukan kesalahan, melakukan hal yang tak seharusnya. Alhasil pesan pelestarian lingkungan yang ingin disampaikannya kalah pamor dengan hasil kritisinya terhadap sederet tokoh tanpa nama (namun lucunya, teridentifikasi dengan jelas) yang dihujatnya tersebut.

Sebagai contoh, dalam sebuah artikel terbaru dia menulis “padahal jelas-jelas kumpulan itu terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang tua, gila muda, juara pamer, mahir menipu, hobi mencuri, mantan calon juara..” membaca ini aku tertegun. Bagiku, kata-kata ini kasar dan sangat berpotensi menyinggung dan melukai perasaan orang lain.

Dengan penasaran, aku buka beranda blognya, diawal blognya tertulis kalimat “kecerdasan intelektual, emosional dan spritual yang dipadu dengan pemahaman teknis fotografi memungkinkan terciptanya sebuah foto yang mampu menggantikan banyak kata”, sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya.

Pemahamanku, orang yang mampu menulis kalimat sehebat itu pastilah orang yang mempunyai perpaduan semua unsur tersebut. Sehingga, sangat tidak mungkin rasanya dia tega menulis dengan memakai bahasa yang kasar begitu. Karena biasanya orang yang cerdas secara intelektual, tidak menggunakan kata-kata kasar, mereka lebih memilih menggunakan kata-kata yang halus. Begitupun orang yang memiliki kecerdasan emosional, mereka menghindari kata-kata berkonotasi kasar yang berpotensi melukai perasaan orang lain. Demikian pula dengan orang yang memiliki kecerdasan spiritual, mereka pastinya akan menggunakan kalimat yang santun yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Apalagi jika orang tersebut memiliki ketiganya, seperti tulisan diawal blog tersebut.

Tapi ya sudahlah... mungkin saja tulisan di beranda blog itu hanya sekedar tulisan saja, bukan menggambarkan jati diri si penulis. Sambil berpikir begitu, aku lanjutkan membaca artikelnya “namun sayang disayang, yang jadi pimpinan gila kewenangan, haus popularitas, serta sibuk dengan prestasi diri sendiri”

Duhaiii... hatiku yang lembut ini tidak kuat membaca kata bernada kasar seperti ini bertubi-tubi. Kalimat ini jelas selain kasar juga penuh dengan cemooh dan amarah. Terasa juga didalamnya terkandung kekecewaan mendalam penulis sehingga mencetuskan kalimat justifikasi yang sedemikian rendahnya terhadap si pimpinan.

Dari sini aku mulai tertegun lagi. Menyimpulkan lagi. Melengkapi simpulan pertamaku yang menyatakan penulis ini menyukai kata kasar, maka sekarang bertambah menjadi “ternyata tak hanya menggunakan kata kasar, namun juga tidak menyimpan rasa hormat terhadap orang lain”.

Bahhh... mengecewakan memang. Penulis sehebat dia, yang bercerita dengan gayanya yang unik ternyata takk mampu bertutur kata dengan sopan. Tutur katanya serampangan, seenak udel. Aku yang baca sampe “sesek” akibat beratnya nada cemooh dalam tulisannya tersebut.

Hobi mencuri... ini tak hanya cemooh sebenarnya, ini hinaan. Adakah orang yang hobbinya mencuri selain seorang kleptomania? Dan apakah gelar hina yang dia sematkan ini setelah melalui serangkaian riset?? Atau hanya mulut dan tangan serta pikirannya saja yang lancang menuliskan dan menganugerahkan gelar hina ini kepada seseorang???

Gila kewenangan!! Busyettt... apalagi itu? Dan bagaimana pula bentuknya?? Apakah kewenangan wakil ketua, sekretaris, maupun seksi-seksi dia semua yang ambil? Atau dia maunya semua kegiatan dia yang handle? Atau gimana sih?

Disini aku mulai merasa jengah. Ternyata ada manusia yang menganggap rendah manusia lainnya sampai memberikan gelar sehina itu. Uhukk... Disini aku jadi kehabisan kata dan hanya bisa meratapi, betapa ternyata seorang penulis itu bisa begitu sewenang-wenangnya dalam menjustifikasi, menghujat, mencemooh bahkan memberi gelar pada orang lain yang tidak disukainya dengan dalih kebebasan berpendapat, kebebasan menulis, kebebasan ini, kebebasan itu, tanpa melakukan serangkaian riset, tanpa melakukan sebuah pendekatan atau penelitian dengan metode apapun namanya. Seorang penulis, bisa langsung dengan lancangnya menghakimi orang lain secepat jarinya menekan tombol keyboard untuk mengetik kata “kamu haus popularitas!! Kamu gila kewenangan!! Kamu penipu!! Kamu juara pamer!! Kamu hobi mencuri!!”.

Gubrakkkkkkk..... sakit sekali hatiku membacanya.

Kebebasan penulis ternyata sudah kebablasan. Kewenangan menyampaikan informasi untuk memberikan edukasi malah dengan lancang diselewengkan untuk menghujat dan mencemooh. Padahal alangkah baiknya bila menulis sesuatu yang berimbang, antara masalah dan solusi diberi porsi sama besar dalam pembahasan. Sehingga pembaca tak hanya tau permasalahan saja, namun juga tau solusinya. Apalagi dari sekian banyak artikelnya, tak aku temui artikel yang membahas tuntas bagaimana menjaga kelestarian lingkungan dengan baik, bagaimana jika ingin berkarya dengan menggunakan hewan langka dengan tanpa membunuh dan merusak habitatnya... Tidak ada. Semua tentang pelestarian hanya dibahas sambil lalu. Sehingga terkesan bukan itulah fokus utama yang disampaikan.

Titik fokusnya justru jatuh pada kritisi terhadap sederet tokoh tanpa nama. Sehingga, seperti yang aku bilang tadi, karena porsi masalah dibahas lebih besar, maka masalah itulah yang akhirnya dilihat dan ditanggapi orang. Dan jika itu terjadi, berarti gagallah si penulis dalam menyampaikan pesan pelestarian lingkungan yang dikoar-koarkan tersebut.

Hahhhh... Sudah ah.. Cape. Jadi demikian saja analisa dangkal ini semoga kata-kata kasar dan kesewenangan gelar yang ditulisnya tak akan ditiru oleh pembaca. Terlebih oleh diriku. Karena, sekalipun aku dididik di sebuah sekolah kedinasan yang penuh dengan kekerasan dan kata-kata kasar, aku sadar, kata
-kata kasar dan kesewenangan tidak akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari, mulai sekarang kita STOP berkata kasar secara lisan maupun tulisan.

Salam damai,
Sutri Sasmita.



Sumber :
http://www.katafoto.com/artikel/135-indah.html